Menjejakan Kaki Di Tanah Emas

Salah satu negara anggota ASEAN ini dahulu dikenal dengan nama Birma atau Burma. Penduduk mayoritasnya adalah etnis Burma yang berasal dari Tibet, namun etnis Shan adalah penduduk aslinya. Myanmar adalah negara berkembang yang sangat mencintai emas, sehingga tidak heran jika banyak bangunan di sana yang terbuat dari atau berlapis emas. Saking banyaknya bangunan emas, Myanmar pun mendapat julukan “Tanah Emas” (The Golden Land). Berikut ini adalah tiga destinasi wisata terpopuler di negara asal Aung San Suu Kyi, pejuang pro demokrasi yang meraih hadiah Nobel perdamaian :

Batu Emas (The Golden Rock)

photo by en.wikipedia.org

Dari begitu banyak tempat ziarah umat Buddha di Myanmar, Batu Emas atau disebut juga Kyaiktiyo, adalah salah satu yang paling masyur. Lokasinya di Mon, sekitar 210 km dari kota Yangon (Rangoon). Pemandangan spektakuler yang diciptakannyalah yang menuai kekaguman dari wisatawan manca negara.

Batu raksasa berwarna keemasan setinggi 25 kaki ini berada di atas tebing setinggi 1.100 meter di atas permukaan laut, dan sebuah stupa kecil bertengger di atasnya. Memang sedikit mengerikan, karena seolah-olah batu itu dapat sewaktu-waktu menghancurkan tebing tempatnya bertumpu. Terdapat jalan yang nyaman sepanjang 1.2 km menuju tempat Batu Emas berada dan dapat dicapai sekitar 1 jam berjalan kaki. Semua wisatawan maupun peziarah harus menanggalkan alas kaki jika ingin ke sana, sesuai kebiasaan masyarakat Myanmar.

Selain Batu Emas, terdapat pula beberapa pagoda dan kuil di sekitar kompleks Kyaiktiyo. Biasanya para peziarah Buddha berkumpul di area di balik Batu Emas untuk memanjatkan doa dan menempelkan lembaran emas pada batu tersebut sebagai tanda hormat dan persembahan. Sedangkan para wisatawan kerap menikmati pemandangan hingga senja tiba, saat matahari terbenam.

Mandalay

photo by en.wikipedia.org

Mandalay adalah kota kedua terbesar di Myanmar, setelah Yangon. Kota ini pernah menjadi ibukota pada masa kejayaan kerajaan Burma, dan hingga kini menjadi pusat perdagangan, pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan kebudayaan negara itu.

Dengan banyaknya imigran asal Cina dalam 20 tahun terakhir, Mandalay sungguh dipengaruhi oleh budaya Cina sekaligus meningkatkan perdagangannya dengan Cina. Myanmar sebagai pusat keagamaan terbukti dengan adanya lebih dari 700 pagoda dan sejumlah biara di sana. Tepat di kaki Bukit Mandalay terdapat pagoda Kuthodaw yang juga dikenal sebagai Kitab Buddha dunia, di mana terdapat 729 loh batu bertuliskan ajaran Buddha yang masing-masing dinaungi oleh stupa putih.

Selain mengunjungi biara dan pagoda, wisatawan di Mandalay juga dapat mengunjungi replika istana Mandalay, penjara Mandalay, dan kebun binatang Yadanabon yang merupakan satu-satunya kebun binatang yang memelihara kura-kura beratap Burma.
Penggemar wisata belanja juga dapat membeli kain sutera, permadani, barang kerajinan ukiran batu dan kayu, batu giok, patung Buddha yang terbuat dari marmer dan tembaga, dan banyak lagi.

Danau Inle

photo by myanmar-all.com

Danau terbesar kedua di Myanmar ini terletak di Nyaungshwe Township, negara bagian Shan. Dapat dicapai melalui jalan darat sejauh 660 km dari Yangon dan 330 km dari Mandalay. Luas danau ini sekitar 116 km2, sedangkan kedalamannya sekitar 3,7 meter pada musim kering dan 5,2 meter pada musim hujan.

Meski tidak begitu luas, danau Inle dihuni 9 jenis ikan endemik antara lain Inle danio, Sawbwa barb, Crossbanded dwarf danio, dan lebih dari 20 jenis siput yang hanya ditemukan di Myanmar. Sementara pada November, Desember dan Januari, danau ini menjadi tujuan migrasi ribuan anjing laut kepala coklat dan hitam.

Setidaknya terdapat 8 etnis yang menetap di danau dan sekitar danau Inle. Mereka tinggal di rumah kayu atau bambu yang sangat sederhana dan mayoritas bermatapencaharian sebagai petani. Mereka menanam sayuran dan buah-buahan di kebun apung. Alat transportasi yang mereka gunakan adalah sampan dan mereka terkenal akan cara mereka mendayung dengan menggunakan kaki. Namun cara ini hanya dilakukan oleh kaum pria.
Industri anyaman berkembang pesat di danau Inle, terutama tas Shan, tas tote yang biasa dikenakan oleh masyarakat Myanmar, yang diproduksi secara massal. Selain itu kain sutra dan kain unik yang terbuat dari serat teratai juga menjadi produk andalan masyarat danau Inle.

Sebagai salah satu destinasi wisata populer Myanmar, masyarakat danau Inle rutin menyelenggarakan festival Hpaung Daw U dan Thadingyut pada September dan Oktober setiap tahunnya guna merayakan musim retret para biarawan Buddha. Etnis Inthas dan Shan biasanya mengenakan pakaian terbaik mereka dan terlibat dalam ajang balap perahu.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Raptim Tours & Travel di nomor telepon atau alamat yang tercantum di website ini.

Beri komentar:

Email anda tidak akan ditampilkan. Kotak dengan tanda (*) wajib diisi

*